Selasa, 17 Agustus 2010, 17.00 WIB, Salatiga, ketika saya sedang dalam perjalanan menuju rumah, saya menjumpai sebuah atmosfer yang tidak biasanya saya jumpai. Sebuah mini bus warna merah menggunakan sirine dan dengan anak tangga diatasnya sedang menyirami rumah warga sipil.
 |
| fire fighter |
|
Sekilas saya agak terbengong. Ternyata itu adalah kebakaran. Gawat! Dalam hati saya berharap supaya tidak ada korban sama sekali. Dengan tatapan mata yang tajam, saya memberanikan diri untuk membusungkan dada, berjalan menuju arah tempat kebakaran itu terjadi. TKP (Tempat Kejadian Perkara) sudah dipenuhi oleh masyarakat sekitar, baik yang membantu memadamkan api maupun yang hanya sekedar menonton. Ada beberapa polisi yang siaga di tempat itu, membantu mengatur lalu lintas karena kebetulan rumah yang terbakar itu ada di pinggir jalan. Rasa penasaran pun mulai mengetuk gerbang otak saya. Apa penyebabya? Hanya 2 kata itu yang melintasi kepalaku. Aku melangkah, menuju ke arah seseorang yang berpakaian agak aneh, berwarna hijau, sedikit mengkilap. Saya bertanya pada pak polisi.
 |
pak polisi
|
|
Kata pak polisi, tersangka adalah Si Hijau (nama samaran-red) tinggi 28cm; berat 3kg; memiliki belalai. Yapp!! Dia adalah tabung gas buatan pemerintah. Terlintas beberapa pikiran konyol saya, tabung gas meledak sedang ngetrend saat ini, berarti kota Salatiga tidak mau ketinggalan ngetrend nya dengan kota lain ;p. Saya meletakkan ujung jari saya di kepala dan bertanya-tanya, apakah pak SBY dan Budiono juga memakai tabung gas yang seperti ini? Karena kemampuan otak saya lemah, saya melepaskan ujung jari saya yang sedang menempel di kepala. Api tersebut telah berhasil di taklukkan oleh sang penakluk api, para petugas pemadam kebakaran yang bekerja dengan imbalan yang tak seberapa namun beresiko kehilangan nyawa. 2 jempol saya angkat untuk mereka. Api menyala di atas rumah itu selama kurang lebih 40menit. Tepat seperti dugaan dan harapan saya, tidak ada korban jiwa yang melayang. Pemilik rumah itu sedang menangis tanpa suara melihat rumahnya yang hangus di lalap api, kini yang tersisa hanyalah puing-puing hangus berserta kenangan mereka tentang tempat perlindungan itu. Hari semakin gelap, saya pun lupa untuk pulang kerumah, parahnya lagi saya lupa kalau tadi kondisi perut saya sedang dalam keadaan kelaparan tingkat tinggi. :'(
No comments:
Post a Comment